Dalam simposium Guru Penggerak Propinsi Jawa Timur yang digelar baru-baru ini, Bapak Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, seorang pemimpin dan pendidik terkemuka, menyampaikan pandangannya tentang Era Kekinian yang mengalami perubahan dari keteraturan menuju ke semrawutan dengan konsep VUCA Prime, yang meliputi Vision, Understanding, Clarity, dan Agility.
Sebagai peserta perwakilan jenjang SMP dari Kabupaten Jember, saya mendengarkan dengan seksama pidato inspiratif Bapak Prof. Nyoman Sudana. Beliau menyoroti perubahan dramatis dalam tatanan kehidupan kita, di mana keteraturan yang dulu diidamkan kini berubah menjadi sebuah tantangan semrawutan yang harus dihadapi dengan bijak.
Menurut beliau, VUCA Prime menjadi kunci utama untuk menghadapi perubahan ini. Vision mengajarkan kita untuk memiliki pandangan jauh ke depan, memahami bahwa masa depan akan selalu penuh ketidakpastian. Understanding menuntut kita untuk memahami konteks dan dinamika perubahan tersebut, sementara Clarity memberikan fokus yang diperlukan agar kita tidak tersesat dalam kebingungan.
Namun, Bapak Nyoman Sudana menekankan bahwa ketiga aspek tersebut tidak akan cukup tanpa kehadiran Agility. Agility adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat, mengambil keputusan dengan bijak, dan berani menghadapi risiko. Bagi seorang pemimpin, keberanian untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab atas risiko adalah kunci sukses di era kekinian.
Pada tahun 2013, Bapak Nyoman Sudana memimpin perubahan besar dalam sistem pendidikan Indonesia. Ia membawa pemikiran bahwa kemajuan kita sebagai bangsa tidak hanya tergantung pada kemajuan individu, melainkan juga kemajuan guru, siswa, dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Beliau menyoroti 8 kunci keunggulan di era kesebelasan global, di antaranya adalah kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat, mengatasi masalah, dan berani mengambil risiko.
Dalam pengalamannya, beliau menekankan pentingnya fleksibilitas dan kecepatan dalam mengambil keputusan. Hal ini dapat diterapkan dalam konteks pembelajaran, di mana para guru diharapkan untuk memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar, dan siswa diharapkan menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata.
Sebagai guru penggerak, Bapak Nyoman Sudana juga berbicara tentang peran penting komunitas dalam menghadapi perubahan. Ia memotivasi untuk tidak menghindar dari tantangan, melainkan menghadapinya dengan keberanian dan kesadaran politik. Pembelajaran relevan dan kekinian, menurutnya, harus terus berkembang, dan karakter siswa tetap menjadi fokus utama, bahkan dalam era pandemi di mana penurunan nilai-nilai karakter menjadi tantangan.
Dengan kata-kata yang menginspirasi, Bapak Nyoman Sudana mengajak seluruh peserta simposium untuk terus melangkah maju, menghadapi perubahan dengan keberanian dan kebijaksanaan. Beliau menyimpulkan pidatonya dengan harapan bahwa pembelajaran karakter tetap menjadi fokus utama dalam pendidikan, sehingga generasi muda dapat tumbuh sebagai individu yang tangguh, beradaptasi, dan memiliki nilai-nilai luhur.



Posting Komentar